Loading...

BERITA BUKU

Berita Buku

Bedah Buku 404 Human Not Found

Deskripsi Gambar

Jakarta, 20 Februari 2026. Di sebuah aula di lantai atas PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Sabtu sore itu (14/2), perbincangan tentang masa depan manusia berlangsung dalam nada yang tak sepenuhnya cemas, tapi juga tak sepenuhnya tenang. Sekitar 30 orang duduk melingkar—ada pegiat literasi, praktisi teknologi, juga mereka yang akrab dengan dunia wellness. Di tengah era ketika kecerdasan buatan kian menyusup ke ruang-ruang privat dan publik, mereka berkumpul membedah sebuah judul yang provokatif: Error 404: Human Not Found.
Judul itu seperti pesan galat di layar komputer: manusia tidak ditemukan. Buku karya Astrid Hendrawati dan Tuhu Nugraha tersebut menjadi titik tolak diskusi yang diselenggarakan Ruang Hening Indonesia. Alih-alih menempatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai antagonis, para penulis justru mengajak peserta memandangnya sebagai cermin. Jika mesin kian cerdas, pertanyaan yang mengemuka bukan lagi sekadar apa yang bisa dilakukan teknologi, melainkan apa yang tersisa dari manusia ketika efisiensi, kecepatan, dan algoritma menjadi ukuran utama.

Error 404: Human Not Found

Diskusi berlangsung selama tiga jam, dari pukul dua hingga lima sore. Moderator dari Klabuku memancing percakapan tentang identitas, kesadaran, dan makna diri di tengah dominasi sistem digital. Dalam konteks itu, AI bukan sekadar perangkat, melainkan simbol dari pergeseran zaman—zaman ketika nilai-nilai kemanusiaan berisiko tereduksi menjadi data.

Namun forum ini tak berhenti pada debat intelektual.
Seusai tanya jawab, suasana aula berubah. Lampu diredupkan. Kak Hana AS, praktisi mindfulness, memandu sesi meditasi. Peserta yang sebelumnya aktif berargumen kini memejamkan mata. Napas diatur, tubuh dilonggarkan. Jika sebelumnya mereka membedah buku, kini mereka membedah diri. Ada semacam transisi: dari nalar ke rasa, dari diskursus ke kesadaran.


Di sudut ruangan, sejumlah wellness booth menawarkan pengalaman personal—life path reading, aromaterapi, journaling corner, hingga camilan sehat dari jeda. Konsep ini bukan tempelan kosmetik. Ia mencerminkan pendekatan yang lebih utuh: memahami persoalan kemanusiaan tak cukup secara kognitif, tapi juga perlu dialami secara batin.

Di sinilah letak pembacaan yang lebih luas atas fenomena ini. Di tengah derasnya optimisme teknologi dan retorika transformasi digital, muncul kebutuhan akan ruang jeda. Ruang untuk menguji ulang asumsi, menimbang ulang nilai, dan mungkin—sejenak—melepaskan diri dari logika notifikasi.

Ruang Hening Indonesia, sebagai inisiator, menyebut literasi hari ini bukan hanya soal membaca teks, melainkan membaca diri. Pernyataan itu terdengar sederhana, tapi justru relevan di era ketika manusia lebih sering berinteraksi dengan layar ketimbang dengan keheningan.

Acara bedah buku ini mungkin kecil dalam skala—tiga puluh peserta di satu aula pada Sabtu sore. Namun ia mencerminkan gejala yang lebih besar: kegelisahan kolektif atas masa depan manusia di tengah otomatisasi. Jika AI mampu menulis, menggambar, bahkan mengambil keputusan, di mana letak otonomi manusia? Apakah kita sedang beradaptasi, atau perlahan menghilang dalam sistem yang kita ciptakan sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak dijawab tuntas sore itu. Dan mungkin memang tak perlu. Sebab yang lebih penting adalah tersedianya ruang untuk bertanya.

Di antara algoritma yang tak pernah lelah bekerja, ada manusia yang memilih berhenti sejenak. Menarik napas. Mengakui keterbatasan. Lalu bertanya ulang: jika suatu hari layar menampilkan pesan “Human Not Found”, apakah yang sesungguhnya hilang—manusianya, atau kesadarannya?

23 November 2025

Jaksa Garda Desa

Program ini juga berfungsi sebagai ruang pendidikan hukum dan penggerak ekonomi berbasis ketahanan pangan, berkolaborasi dengan berbagai lembaga untuk memberdayakan petani dan BUMDes. Keberhasilan Jaga Desa terbangun di atas sinergi, kolaborasi, dan gotong royong, di mana hukum berfungsi sebagai alat pemberdayaan masyarakat.

Selengkapnya

23 November 2025

Berubah atau Terpuruk: Catatan Tengah

Dalam kumpulan tulisan ini, Anang S. Kusuwardono menggali kompleksitas interaksi antara ekonomi, politik, dan perubahan sosial di Indonesia.

Selengkapnya

23 November 2025

Bale Kerta Adhyaksa

Buku Bale Kerta Adhyaksa: Menanam Harmoni di Tanah Bali membuka jendela pada sebuah gagasan yang sederhana sekaligus mendalam: bahwa keadilan sejati bukanlah menghukum, melainkan memulihkan.

Selengkapnya